Rambutnya jati tergerai dalam sepi
Tapi pecah berderai di tepi pantai
Kulitnya salju dilingkari mutiara mulia
Namun tampaknya menghilang pilu
Jasanya terukir dalam batu mutiara
Kuatnya takkan kalahkan palung baraBallada Mentari.....
Rambutnya jati tergerai dalam sepi
Tapi pecah berderai di tepi pantai
Kulitnya salju dilingkari mutiara mulia
Namun tampaknya menghilang pilu
Jasanya terukir dalam batu mutiara
Kuatnya takkan kalahkan palung bara
Hampa hatinya tersungkur nestapa
Pahit manis kasih mewarnai perjalanannya
Begini mulanya :
Desis pagi mulai mengerami
Sayang !
Dulu rayuan gelap gulita bisu tanpa nama
Rindulah kasak-kusuk pesona angina
Pusaku panorama mentari menjadi sinarnya
Mengungkapkan rahasia pulau dalam tangisan tuli
Demikian indahnya
Namun......
Tak sempat terungkap
Sang ayah meninggalkan dua manusia
Ayah
Mana emas dalam peti hujan itu
Takutku dibawa ombak bersama gelombang sakti
Belum lagi! Rintihan setiap malam hari
Kala kau pergi
Pupusan rindu menjadi tautan sejati
Mewarnai berbagai linangan cucuran tasbih
Kini melodi tangis mengenang sehari-hari
Sampai fatamorgana utusan kian menghantui
Pada getah galaksi akhir juni
Membawa serpihan hidup menuju bumi
Mencuri kasih sayang yang sempat bertumpah
Ternyata tanpa praduga jiwa
Dahan-dahan suci gugur dari tangkainya
Menyemai seluruh cintaBallada Mentari.....
Rambutnya jati tergerai dalam sepi
Tapi pecah berderai di tepi pantai
Kulitnya salju dilingkari mutiara mulia
Namun tampaknya menghilang pilu
Jasanya terukir dalam batu mutiara
Kuatnya takkan kalahkan palung bara
Hampa hatinya tersungkur nestapa
Pahit manis kasih mewarnai perjalanannya
Begini mulanya :
Desis pagi mulai mengerami
Sayang !
Dulu rayuan gelap gulita bisu tanpa nama
Rindulah kasak-kusuk pesona angina
Pusaku panorama mentari menjadi sinarnya
Mengungkapkan rahasia pulau dalam tangisan tuli
Demikian indahnya
Namun......
Tak sempat terungkap
Sang ayah meninggalkan dua manusia
Ayah
Mana emas dalam peti hujan itu
Takutku dibawa ombak bersama gelombang sakti
Belum lagi! Rintihan setiap malam hari
Kala kau pergi
Pupusan rindu menjadi tautan sejati
Mewarnai berbagai linangan cucuran tasbih
Kini melodi tangis mengenang sehari-hari
Sampai fatamorgana utusan kian menghantui
Pada getah galaksi akhir juni
Membawa serpihan hidup menuju bumi
Mencuri kasih sayang yang sempat bertumpah
Ternyata tanpa praduga jiwa
Dahan-dahan suci gugur dari tangkainya
Menyemai seluruh cinta
Membelai jalang di sampingnya
Ibu!
Mentari kan sinari wajah bulan
Mengorek pilu dalam kesepian
Kesenduan
Kesenderian
Sedan
Tiang nurani kian menjadi
Mengayomi aliran sunyi
Mentari kan sinari wajah bintang
Meskipun pernah ia wujudkan impian kabut jalang
Yang merampas sejarah topeng arang
Menara rohani kan menjadi naungan abadi
Mendekap bulan dalam rintihan jerami
Hatinya bersih laksana salju
Jiwanya suci laksana awan biru
Tak disangka muncullah
Burung gagak bersayap putih
Mengitari seluruh awak semesta
Mentari !
Rintihnya remang-remang memegang seribu sembilu
Ingin hiliran katanya menyatu
Dalam hikayat rindu walaupun cukup huruf semu
Namun
Semua telah terjadi
Tempo akhir juni itu
Pita suaranya telah tiada
Karena suatu amal mulia
Untuk membangun keluarga sakinah
Mentari !
Geraknya terasa tersanya waktu
Ingin halusnya tangan membelai
Kepada kasih buah hati tersayang
Walaupun cukup sedetik
Namun semuanya telah terjadi
Kala tengah juni itu
Virus epilisi datang menimpa
Tanpa undangan yang tak terduga
Mentari !
Kelamnya hari berisi mata hati
Ingin sinarnya memancar pasti
Membukanya dunia nyata kembali
Walaupun cukup sekejap nyali
Namun semuanya telah terjadi
Saat telah terjadi
Saat awal juni itu
Awal juni itu
Air mata tak sanggup terhenti
Sampai semuanya gelap dan gulita
Karena yang tertinggal tak berarti
Mentari !
Sajaknya makna segala sejarah
Menghimpun lentera utara
Membentangnya sampai laskar lapis selatan
Ternyata hanya satu impian jiwa
Karena suara itu kan memberi hidup
Yaitu nyaringnya suara mentari
Tuk menghibur setiap harinya
Ibu
Sinarku kan bersinar
Demi janji suci yang pernah berkobar
Perlahan gerilya sang ibu
Memakan medan tahu
Kedua manusia yang tak berdaya
Keceali Dia
Dan segalanya akan padam
Bila cinta selalu bersama
Menggulai setiap penghujung waktu
Meskipun hanya berdua
Dalam sendu
Membelai jalang di sampingnya
Ibu!
Mentari kan sinari wajah bulan
Mengorek pilu dalam kesepian
Kesenduan
Kesenderian
Sedan
Tiang nurani kian menjadi
Mengayomi aliran sunyi
Mentari kan sinari wajah bintang
Meskipun pernah ia wujudkan impian kabut jalang
Yang merampas sejarah topeng arang
Menara rohani kan menjadi naungan abadi
Mendekap bulan dalam rintihan jerami
Hatinya bersih laksana salju
Jiwanya suci laksana awan biru
Tak disangka muncullah
Burung gagak bersayap putih
Mengitari seluruh awak semesta
Mentari !
Rintihnya remang-remang memegang seribu sembilu
Ingin hiliran katanya menyatu
Dalam hikayat rindu walaupun cukup huruf semu
Namun
Semua telah terjadi
Tempo akhir juni itu
Pita suaranya telah tiada
Karena suatu amal mulia
Untuk membangun keluarga sakinah
Mentari !
Geraknya terasa tersanya waktu
Ingin halusnya tangan membelai
Kepada kasih buah hati tersayang
Walaupun cukup sedetik
Namun semuanya telah terjadi
Kala tengah juni itu
Virus epilisi datang menimpa
Tanpa undangan yang tak terduga
Mentari !
Kelamnya hari berisi mata hati
Ingin sinarnya memancar pasti
Membukanya dunia nyata kembali
Walaupun cukup sekejap nyali
Namun semuanya telah terjadi
Saat telah terjadi
Saat awal juni itu
Awal juni itu
Air mata tak sanggup terhenti
Sampai semuanya gelap dan gulita
Karena yang tertinggal tak berarti
Mentari !
Sajaknya makna segala sejarah
Menghimpun lentera utara
Membentangnya sampai laskar lapis selatan
Ternyata hanya satu impian jiwa
Karena suara itu kan memberi hidup
Yaitu nyaringnya suara mentari
Tuk menghibur setiap harinya
Ibu
Sinarku kan bersinar
Demi janji suci yang pernah berkobar
Perlahan gerilya sang ibu
Memakan medan tahu
Kedua manusia yang tak berdaya
Keceali Dia
Dan segalanya akan padam
Bila cinta selalu bersama
Menggulai setiap penghujung waktu
Meskipun hanya berdua
Dalam sendu
Hampa hatinya tersungkur nestapa
Pahit manis kasih mewarnai perjalanannya
Begini mulanya
Desis pagi mulai mengerami
Sayang !
Dulu rayuan gelap gulita bisu tanpa nama
Rindulah kasak-kusuk pesona angina
Pusaku panorama mentari menjadi sinarnya
Mengungkapkan rahasia pulau dalam tangisan tuli
Demikian indahnya
Namun......
Tak sempat terungkap
Sang ayah meninggalkan dua manusia
Mana emas dalam peti hujan itu
Takutku dibawa ombak bersama gelombang sakti
Belum lagi! Rintihan setiap malam hari
Kala kau pergi
Pupusan rindu menjadi tautan sejati
Mewarnai berbagai linangan cucuran tasbih
Kini melodi tangis mengenang sehari-hari
Sampai fatamorgana utusan kian menghantui
Pada getah galaksi akhir juni
Membawa serpihan hidup menuju bumi
Mencuri kasih sayang yang sempat bertumpah
Ternyata tanpa praduga jiwa
Dahan-dahan suci gugur dari tangkainya
Menyemai seluruh cinta
Membelai jalang di sampingnya
Mentari kan sinari wajah bulan
Mengorek pilu dalam kesepian
Kesenduan
Kesenderian
Tiang nurani kian menjadi
Mengayomi aliran sunyi
Mentari kan sinari wajah bintang
Meskipun pernah ia wujudkan impian kabut jalang
Yang merampas sejarah topeng arang
Menara rohani kan menjadi naungan abadi
Mendekap bulan dalam rintihan jerami
Hatinya bersih laksana salju
Jiwanya suci laksana awan biru
Tak disangka muncullah
Burung gagak bersayap putih
Mengitari seluruh awak semesta
<
Rintihnya remang-remang memegang seribu sembilu
Ingin hiliran katanya menyatu
Dalam hikayat rindu walaupun cukup huruf semu
Namun
Semua telah terjadi
Pita suaranya telah tiada
Karena suatu amal mulia
Untuk membangun keluarga sakinah
Geraknya terasa tersanya waktu
Ingin halusnya tangan membelai
Kepada kasih buah hati tersayang
Walaupun cukup sedetik
Namun semuanya telah terjadi
Kala tengah juni itu
Virus epilisi datang menimpa
Tanpa undangan yang tak terduga
Kelamnya hari berisi mata hati
Ingin sinarnya memancar pasti
Membukanya dunia nyata kembali
Walaupun cukup sekejap nyali
Namun semuanya telah terjadi
Saat telah terjadi
Saat awal juni itu
Awal juni itu
Air mata tak sanggup terhenti
Sampai semuanya gelap dan gulita
Karena yang tertinggal tak berarti
Sajaknya makna segala sejarah
Menghimpun lentera utara
Membentangnya sampai laskar lapis selatan
Ternyata hanya satu impian jiwa
Karena suara itu kan memberi hidup
Yaitu nyaringnya suara mentari
Tuk menghibur setiap harinya
Sinarku kan bersinar
Demi janji suci yang pernah berkobar
Perlahan gerilya sang ibu
Memakan medan tahu
Kedua manusia yang tak berdaya
Keceali Dia
Dan segalanya akan padam
Bila cinta selalu bersama
Menggulai setiap penghujung waktu
Meskipun hanya berdua
Dalam sendu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar