Sabtu, 22 Mei 2010

kebersamaan

happy birtday our homeroom's teacher.....
we do hope that you will get a perfect patrner for you.

saat kau hadir

Semakin lama ku jauhi
Semakin dekat ku temui
Ku coba tuk menghindar
Namun apa yang berbinar
Bunga asmara yang bersinar
Ku tak mau kau hadir Dalam setiap hari-hari ku
Karena pastilah bunga bangkai
kian menghadiri Namun apa daya
Hanya harapan jemu memudar
Mencibir sakit di ulu
Ku tak mau semua ini terjadi
Ku tak ingin aku
Terpatahkan oleh dahan-dahan asmara
Karena cinta ini bertolak semu

ballada mentari

Rambutnya jati tergerai dalam sepi
Tapi pecah berderai di tepi pantai
Kulitnya salju dilingkari mutiara mulia
Namun tampaknya menghilang pilu
Jasanya terukir dalam batu mutiara
Kuatnya takkan kalahkan palung baraBallada Mentari.....


Rambutnya jati tergerai dalam sepi
Tapi pecah berderai di tepi pantai
Kulitnya salju dilingkari mutiara mulia
Namun tampaknya menghilang pilu

Jasanya terukir dalam batu mutiara
Kuatnya takkan kalahkan palung bara
Hampa hatinya tersungkur nestapa
Pahit manis kasih mewarnai perjalanannya
Begini mulanya :
Desis pagi mulai mengerami

Sayang !

Dulu rayuan gelap gulita bisu tanpa nama
Rindulah kasak-kusuk pesona angina
Pusaku panorama mentari menjadi sinarnya
Mengungkapkan rahasia pulau dalam tangisan tuli
Demikian indahnya
Namun......
Tak sempat terungkap
Sang ayah meninggalkan dua manusia


Ayah
Mana emas dalam peti hujan itu
Takutku dibawa ombak bersama gelombang sakti
Belum lagi! Rintihan setiap malam hari
Kala kau pergi

Pupusan rindu menjadi tautan sejati
Mewarnai berbagai linangan cucuran tasbih
Kini melodi tangis mengenang sehari-hari
Sampai fatamorgana utusan kian menghantui

Pada getah galaksi akhir juni
Membawa serpihan hidup menuju bumi
Mencuri kasih sayang yang sempat bertumpah
Ternyata tanpa praduga jiwa
Dahan-dahan suci gugur dari tangkainya
Menyemai seluruh cintaBallada Mentari.....


Rambutnya jati tergerai dalam sepi
Tapi pecah berderai di tepi pantai
Kulitnya salju dilingkari mutiara mulia
Namun tampaknya menghilang pilu

Jasanya terukir dalam batu mutiara
Kuatnya takkan kalahkan palung bara
Hampa hatinya tersungkur nestapa
Pahit manis kasih mewarnai perjalanannya
Begini mulanya :
Desis pagi mulai mengerami

Sayang !

Dulu rayuan gelap gulita bisu tanpa nama
Rindulah kasak-kusuk pesona angina
Pusaku panorama mentari menjadi sinarnya
Mengungkapkan rahasia pulau dalam tangisan tuli
Demikian indahnya
Namun......
Tak sempat terungkap
Sang ayah meninggalkan dua manusia


Ayah
Mana emas dalam peti hujan itu
Takutku dibawa ombak bersama gelombang sakti
Belum lagi! Rintihan setiap malam hari
Kala kau pergi

Pupusan rindu menjadi tautan sejati
Mewarnai berbagai linangan cucuran tasbih
Kini melodi tangis mengenang sehari-hari
Sampai fatamorgana utusan kian menghantui

Pada getah galaksi akhir juni
Membawa serpihan hidup menuju bumi
Mencuri kasih sayang yang sempat bertumpah
Ternyata tanpa praduga jiwa
Dahan-dahan suci gugur dari tangkainya
Menyemai seluruh cinta
Membelai jalang di sampingnya

Ibu!

Mentari kan sinari wajah bulan
Mengorek pilu dalam kesepian
Kesenduan
Kesenderian
Sedan
Tiang nurani kian menjadi
Mengayomi aliran sunyi

Mentari kan sinari wajah bintang
Meskipun pernah ia wujudkan impian kabut jalang
Yang merampas sejarah topeng arang
Menara rohani kan menjadi naungan abadi
Mendekap bulan dalam rintihan jerami

Hatinya bersih laksana salju
Jiwanya suci laksana awan biru
Tak disangka muncullah
Burung gagak bersayap putih
Mengitari seluruh awak semesta

Mentari !

Rintihnya remang-remang memegang seribu sembilu
Ingin hiliran katanya menyatu
Dalam hikayat rindu walaupun cukup huruf semu
Namun
Semua telah terjadi
Tempo akhir juni itu
Pita suaranya telah tiada
Karena suatu amal mulia
Untuk membangun keluarga sakinah

Mentari !

Geraknya terasa tersanya waktu
Ingin halusnya tangan membelai
Kepada kasih buah hati tersayang
Walaupun cukup sedetik
Namun semuanya telah terjadi
Kala tengah juni itu
Virus epilisi datang menimpa
Tanpa undangan yang tak terduga

Mentari !

Kelamnya hari berisi mata hati
Ingin sinarnya memancar pasti
Membukanya dunia nyata kembali
Walaupun cukup sekejap nyali
Namun semuanya telah terjadi
Saat telah terjadi
Saat awal juni itu
Awal juni itu
Air mata tak sanggup terhenti
Sampai semuanya gelap dan gulita
Karena yang tertinggal tak berarti

Mentari !

Sajaknya makna segala sejarah
Menghimpun lentera utara
Membentangnya sampai laskar lapis selatan
Ternyata hanya satu impian jiwa
Karena suara itu kan memberi hidup
Yaitu nyaringnya suara mentari
Tuk menghibur setiap harinya

Ibu
Sinarku kan bersinar
Demi janji suci yang pernah berkobar

Perlahan gerilya sang ibu
Memakan medan tahu
Kedua manusia yang tak berdaya
Keceali Dia

Dan segalanya akan padam
Bila cinta selalu bersama
Menggulai setiap penghujung waktu
Meskipun hanya berdua
Dalam sendu
Membelai jalang di sampingnya

Ibu!

Mentari kan sinari wajah bulan
Mengorek pilu dalam kesepian
Kesenduan
Kesenderian
Sedan
Tiang nurani kian menjadi
Mengayomi aliran sunyi

Mentari kan sinari wajah bintang
Meskipun pernah ia wujudkan impian kabut jalang
Yang merampas sejarah topeng arang
Menara rohani kan menjadi naungan abadi
Mendekap bulan dalam rintihan jerami

Hatinya bersih laksana salju
Jiwanya suci laksana awan biru
Tak disangka muncullah
Burung gagak bersayap putih
Mengitari seluruh awak semesta

Mentari !

Rintihnya remang-remang memegang seribu sembilu
Ingin hiliran katanya menyatu
Dalam hikayat rindu walaupun cukup huruf semu
Namun
Semua telah terjadi
Tempo akhir juni itu
Pita suaranya telah tiada
Karena suatu amal mulia
Untuk membangun keluarga sakinah

Mentari !

Geraknya terasa tersanya waktu
Ingin halusnya tangan membelai
Kepada kasih buah hati tersayang
Walaupun cukup sedetik
Namun semuanya telah terjadi
Kala tengah juni itu
Virus epilisi datang menimpa
Tanpa undangan yang tak terduga

Mentari !

Kelamnya hari berisi mata hati
Ingin sinarnya memancar pasti
Membukanya dunia nyata kembali
Walaupun cukup sekejap nyali
Namun semuanya telah terjadi
Saat telah terjadi
Saat awal juni itu
Awal juni itu
Air mata tak sanggup terhenti
Sampai semuanya gelap dan gulita
Karena yang tertinggal tak berarti

Mentari !

Sajaknya makna segala sejarah
Menghimpun lentera utara
Membentangnya sampai laskar lapis selatan
Ternyata hanya satu impian jiwa
Karena suara itu kan memberi hidup
Yaitu nyaringnya suara mentari
Tuk menghibur setiap harinya

Ibu
Sinarku kan bersinar
Demi janji suci yang pernah berkobar

Perlahan gerilya sang ibu
Memakan medan tahu
Kedua manusia yang tak berdaya
Keceali Dia

Dan segalanya akan padam
Bila cinta selalu bersama
Menggulai setiap penghujung waktu
Meskipun hanya berdua
Dalam sendu

Hampa hatinya tersungkur nestapa
Pahit manis kasih mewarnai perjalanannya
Begini mulanya
Desis pagi mulai mengerami
Sayang !
Dulu rayuan gelap gulita bisu tanpa nama
Rindulah kasak-kusuk pesona angina
Pusaku panorama mentari menjadi sinarnya
Mengungkapkan rahasia pulau dalam tangisan tuli
Demikian indahnya
Namun......
Tak sempat terungkap
Sang ayah meninggalkan dua manusia
Mana emas dalam peti hujan itu
Takutku dibawa ombak bersama gelombang sakti
Belum lagi! Rintihan setiap malam hari
Kala kau pergi
Pupusan rindu menjadi tautan sejati
Mewarnai berbagai linangan cucuran tasbih


Kini melodi tangis mengenang sehari-hari
Sampai fatamorgana utusan kian menghantui
Pada getah galaksi akhir juni
Membawa serpihan hidup menuju bumi
Mencuri kasih sayang yang sempat bertumpah
Ternyata tanpa praduga jiwa
Dahan-dahan suci gugur dari tangkainya
Menyemai seluruh cinta
Membelai jalang di sampingnya

Mentari kan sinari wajah bulan
Mengorek pilu dalam kesepian
Kesenduan
Kesenderian
Tiang nurani kian menjadi
Mengayomi aliran sunyi

Mentari kan sinari wajah bintang
Meskipun pernah ia wujudkan impian kabut jalang
Yang merampas sejarah topeng arang
Menara rohani kan menjadi naungan abadi
Mendekap bulan dalam rintihan jerami
Hatinya bersih laksana salju
Jiwanya suci laksana awan biru
Tak disangka muncullah
Burung gagak bersayap putih
Mengitari seluruh awak semesta

<
Rintihnya remang-remang memegang seribu sembilu
Ingin hiliran katanya menyatu
Dalam hikayat rindu walaupun cukup huruf semu
Namun
Semua telah terjadi
Pita suaranya telah tiada
Karena suatu amal mulia
Untuk membangun keluarga sakinah

Geraknya terasa tersanya waktu
Ingin halusnya tangan membelai
Kepada kasih buah hati tersayang
Walaupun cukup sedetik
Namun semuanya telah terjadi
Kala tengah juni itu
Virus epilisi datang menimpa
Tanpa undangan yang tak terduga
Kelamnya hari berisi mata hati
Ingin sinarnya memancar pasti
Membukanya dunia nyata kembali
Walaupun cukup sekejap nyali
Namun semuanya telah terjadi
Saat telah terjadi
Saat awal juni itu

Awal juni itu
Air mata tak sanggup terhenti
Sampai semuanya gelap dan gulita
Karena yang tertinggal tak berarti


Sajaknya makna segala sejarah
Menghimpun lentera utara
Membentangnya sampai laskar lapis selatan
Ternyata hanya satu impian jiwa
Karena suara itu kan memberi hidup
Yaitu nyaringnya suara mentari
Tuk menghibur setiap harinya
Sinarku kan bersinar
Demi janji suci yang pernah berkobar
Perlahan gerilya sang ibu
Memakan medan tahu
Kedua manusia yang tak berdaya
Keceali Dia
Dan segalanya akan padam
Bila cinta selalu bersama
Menggulai setiap penghujung waktu
Meskipun hanya berdua
Dalam sendu

kecekaman biru



binar cahaya di wajahmu
kini menghilang semu

sinar asmara di hatimu
kini mencekam bisu

darah cinta di jantungmu
kini menerpa biru

sayup-sayup arti cinta dan kebahagiaan
kini mendekap jemu

Kamis, 06 Mei 2010

amarah batu

dunia menalar segala sejarah
bumi bertasbih menerka cerita
lautan lentera meluas seketika
pulau jiwa menjanji kunci rahasia

bulan.....
jagalah mutiara cinta
yang dulu sempat melayang asa
simpanlah paras kupu-kupu
yang belum ternodai oleh sesuatu
tebarlah kuntum-kuntum asmara kasih
yang tak pernah terisi rasa satu januari

bukan praduga yang disengaja
namun sejoli hati kian berjumpa

jemai atas segala rasa
yang tiba-tiba datang tak terduga
menemani serpihan bunga jiwa
menganga setiap hari cinta

rindulah hati ingin bertemu
hanya terhimpit oleh waktu
ingin kuraih semua amarah batu
yang sempat terkutuk oleh semu

maafkan atas segala ucap yang belum terungkap
maafkan atas segala nafas yang belum terhempas
maafkan atas segala lintang yang belum terlintang
maafkan atas segala rasa yang belum berkata

ku tak mau seorang pun tau
atas gejala yang tak tentu arah
pertahankan atas segala penolakan rona
yang ada di tepi meriam senja

bukan segalanya jika ini tak asa
ku hanya ingin kesetiaan nyata